melihat kebelakang

yaa.. seminari tinggi fermentum adalah seminari pendidikan calon imam keuskupan bandung. Perjalanan yang sangat panjang menghiasi berdirinya bangungan fisik dan bangunan rohani fermentum ini sendiri.
Selanjutnya...?

August 30, 2008

Citepus mulai dibangun





Gedung Seminari Tinggi Fermentum Citepus mulai dibangun pada bulan November 1994. Sebelumnya, Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr., telah mengumpulkan tokoh-tokoh yang mampu memahami visi beliau dan menjadikannya panitia pembangunan Seminari Tinggi Fermentum. “Mengapa mesti melibatkan banyak orang?” “Pembangunan ini bukanlah pembangunan yang sekali keluarkan biaya lalu jadi, tetapi
Ini harus diangkat oleh umat.” Ini menjadi khas keuskupan Bandung. Tidak ada keuskupan lain yang seperti ini.
Waktu itu, di keuskupan Agung Semarang belum ada imam dioses yang menjadi uskup. Uskup yang ada bukanlah diosesan. Melihat Seminari Tinggi yang ada di Jl. Tjode 2 sudah tidak mencukupi lagi dan dengan pertimbangan lainnya, akhirnya Mgr. Soegijopranoto SJ.. mencari tempat lain yang lebih luas bagi pembinaan calon imam diosesan. Rm. L. Suasso de lima de Padro SJ dan Rm. Leo Soekoto SJ., yang menjabat rektor pada waktu itu segera mencari tanah untuk pembangunan Seminari Tinggi. Pembangunan dibiayai keuskupan.

Panitia pembangunan Seminari Tinggi Keuskupan mulai bergerak. Jl. Jawa 22 yang waktu itu menjadi wisma tahun rohani menjadi sekretariat panitia pembangunan. Berbagai cara pengumpulan dana dilakukan. Pengajuan proposal, bazar, door price, permohonan ke paroki-paroki, semua dilakukan untuk membiayai pambangunan. Paroki. kelompok kategorial, perusahaan, perorangan, keluarga, dan banyak lainnya memberikan sumbangan yang tidak sedikit hingga akhirnya dana yang dianggarkan tercukupi. Tidak hanya dalam bentuk uang, tidak jarang yang menyumbang bahan-bahan bangunan antara lain cat.
Tanah untuk kompleks gedung Seminari Tinggi diupayakan. Namun tidak ada lagi tanah seluas paling sedikit seribu meter persegi yang Ietaknya ada di daerah kota Bandung ini. Mgr. Alexander Djajasiswaja ingat bahwa pernah membeli tanah sedikit demi sedikit hingga akhirnya seluas 20.000 meter persegi. Tanah ini dibeli melalui Pst. Van Iperen OSC., dan para haji yang mempunyai tanah tersebut. Waktu itu sebenarnya Pst. Van Iperen OSC., harus bersaing dengan para konglomerat dan pengusaha besar yang juga ingin membeli tanah tersebut. Akan tetapi Haji-haji pemilik lebih mempercayai Pst. Van Iperen OSC., dengan alasan bahwa Pst. Van Iperen OSC., mempunyai sekolah, sekolah tersebut pasti membutuhkan asrama, yang jelas ini untuk kepentingan pendidikan. Haji-haji lebih terbuka untuk itu daripada nanti dikuasai konglomerat yang malah dapat menindas rakyat. Jadi pada awalnya, mereka mulai mengetahui bahwa Pst. Van Iperen OSC akan membangun asrama di sini. Tidak hanya Aloysius tetapi juga asrama Unpar.

Tanah yang dibeli pada waktu itu seluas 20.000 m2. Akan tetapi, yang dapat dipergunakan tinggal sekitar 5.000 m2 karena ditukar dengan PT. Batununggal di daerah jalan Soekarno-Hatta untuk pembangunan kompleks sekolah Aloysius.
Pada waktu Romo Mangun lewat Bandung. Mgr. Alexander Djajasiswaja meminta beliau untuk merancang bangunan bagi Seminari Tinggi Keuskupan Bandung. Romo Mangun berkomentar bahwa tanah ini bagus. Tanah yang tidak rata justru dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk pembangunan unit-unit.
Apa yang mendasari bangunan bentuk unit? Bentuk unit ini khasnya Fermentum. Bentuk ini dilandasi oleh pemikiran bahwa selama ini, model seminari yang ada adalah bentuk tangsi. Anak tangsi mempunyai kenakalan tinggi. Kalau Seminarinya juga model tangsi, hasilnya juga anak-anak model tangsi. Besar tetapi tidak pernah ada interaksi yang sungguh-sungguh mendalam karena semua dapat berlindung di belakang komunitas yang serba besar. Dalam unit-unit, besar kemungkinan terwujudnya kerja sama, tahu kelemahan orang lain, secara khusus juga dapat saling membantu. Semua interaksi ini dilakukan dengan lebih intens.

Tanggal 11 November 1994. Gedung Seminari Tinggi mulai dibangun. Panitia pembangunan memperhitungkan bahwa proses pembangunan akan memakan waktu selama dua tahun atau lebih cepat sedikit dan perkiraan tersebut. Diandaikan bahwa pada awal tahun 1996 gedung sudah selesai. Akan tetapi, dalam proses pembangunan, biaya melonjak tinggi. Harga bahan-bahan bangunan mengalami kenaikan terutama kayu sebagai bahan baku utama gedung ini. Lokasi yang tidak dapat dijangkau olch truk pengangkut bahan-bahan bangunan membuat waktu dan biaya bertambah besar Bahan-bahan bangunan harurdiangkut dengan tenaga manusia. Hal ini membuat waktu pembangunan semakin lama. Biaya pengangkutan yang semula tidak diperhitungkan harus diadakan. Awal tahun 1996, gedung belum sepenuhnya selesai. Biaya yang semula dianggarkan 1,1 milyar, kini membengkak menjadi 1,7 milyar. Keuskupan harus rnerogoh kantongnya lebih dalam. Panitia pembangunan Seminari Tinggi tidak dapat mohon sumbangan ke paroki-paroki karena beredar kabar bahwa biaya sudah mencukupi.

Fermentum di Sekepanjang



ERA SEKEPANJANG

Bapak Uskup Bandung mencita-citakan munculnya imam-imam yang sungguh-sungguh tangguh, baik dalam karya, doa, kepribadian, maupun persaudaraan. Untuk mewujudkan cita-cita ini beliau membayangkan adanya penempaan para frater dalam unit-unit kecil. Kehidupan dalam unit kecil akan membantu para frater untuk berinteraksi satu sama lain secara Iebih intim, begitu kira-kira pemikiran beliau.

Bayangan Bapa Uskup menjadi kenyataan pada tanggal 30 Agustus 1991. Ketika itu Suster-suster Maryknoll yang mempunyai rumah di Jalan Sekepanjang hampir menyelesaikan masa tugasnya di Keuskupan Bandung. Mulanya rumah tersebut diserahkan kepada Suster-Suster Ursulin untuk dijadikan Novisiat. Namun demikian, ternyata penempatan rumah di Sekepanjang oleh novis-novis Ursulin tidak semulus yang dibayangkan. Paling tidak hal itu terungkap dalam percakapan Bapak Uskup dengan Provinsial OSU pada waktu peresmian Seminari Menengah Cadas Hikmat. Menurut Suster Provinsial, masyarakat, selalu membandingkan mereka dengan Sustr-suster Maryknoll yang sebelumnya berkarya di sana. Misalnya, Suster-suster OSU menggunakan busana biara, sedangkan penghuni sebelumnya (Suster Maryknoll) menggunakan pakaian biasa. Hubungan dengan masyarakat sekitar pun menjadi renggang karena memang kegiatan novis novis OSU lebih banyak bersifat “ke dalam”,

Ursulin bermaksud menyerahkan rumah di Sekepanjang kepada Keuskupan. Bapak Uskup menerimanya dengan gembira dan menjadikan rumah tersebut sebagai salah satu unit pembinaan para frater Fermentum. Para frater yang tinggal di Sekepanjang didampingi oleh Pst. Nahak yang waktu itu sedang bc1ajar di Unpar. Di Sekepanjang, para frater berusaha meneruskan karya Suster-Suster Maryknoll yang dianggap sudah membuahkan hasil. Mereka bersedia meluangkan waktu untuk membantu perkembangan masyarakat sekitarnya, terutama anak-anak. Seringkali mereka tidak dapat tidur siang karena suasana rumah yang begitu ramai oleh anak-anak tetangga yang belajar dan bermain di seminari. Para frater tidak mengeluhkan hal ini karena memang hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama. Lagi pula, pelayanan tersebut membantu para frater dalam belajar hidup meragi, hidup memasyarakat.

Kesadaran untuk mempersiapkan diri menjadi Imam yang kelak harus masuk “pasar” dan imam yang mendorong umat untuk mau masuk “pasar” terus bergema. Gema kesadaran inilah yang membuat para frater merelakan kepentingan dan “kesenangan” mereka duetakkan di bawah kebutuhan masyarakat sekitar. Upaya terlibat dalam kehidupan masyarakat ternyata tidak mudah. Ini juga dialami Para frater yang tinggal di Sekepanjang. Banyak hambatan yang muncul dan dalam maupun dan luar. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, .Bapak Uskup akhirnya menyatukan kembali para frater di Komunitas Fermentum Buah Batu. Dengan demikian, Rumah di Sekepanjang yang baru dihuni satu tahun ditinggalkan dan digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Pada tahun 1992, calon serninaris yang mendaftarkan diri cukup banyak. Serninari Tinggi Fermenturn yang ada di Suryalaya Sari tidak lagi rnemadai untuk menampung calon ini. Berbagai usaha lantas dilakukan untuk mencari rumah yang Iayak bagi mereka.
Di jalan menuju Lembang ada sebuah wisma tempat belajar para pekerja pabrik timah hendak dijual, Dengan segera Pst. Van Iperen OSC., mewakili Bapak Uskup segera berusaha membelinya. Tempatnya sudah terkotak-kotak sebagai tempat studi. Cukup untuk dijadikan tempat pendidikan calon imam. Uang sudah disediakan tinggal menunggu waktu lelang. Akan tetapi, usaha itu kandas oleh pihak yang lebih berkuasa. Lelang ditiadakan.
Dalam waktu yang mendesak tersebut, tatkala Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr., melintas di Jl.Jawa 22, terpampang papan yang menyatakan bahwa rumah ini dijual atau disewakan. Karena keadaan memaksa, disewalah rumah tersebut untuk jangka waktu tiga tahun meski dengan harga sewa yang cukup tinggi. Ini semua terjadi sekitar bulan Mei 1992. Jadi memang JI. Jawa dijadikan tempat pembinaan tahun orientasi rohani (TOR) untuk sementara.
Pada waktu itu terpikir bahwa dalam waktu yang tersisa, rumah dapat dipersiapkan untuk dihuni. Setelah dilihat ternyata masih banyak yang harus dibenahi. Dinding, perabotan, kusen, pintu, jendela, halaman dan banyak ruangan dalam keadaan aus. Banyak yang harus diperbaiki supaya siap pakai.
Pada saat seminaris yang baru berdatangan, tempat belum juga siap huni. Seminaris baru mau tidak mau harus mempersiapkan rumah tersebut supaya layak huni. Dinding di cat, lampu dipasang, sekat kamar dibuat, bak air harus dibuat kalau ingin mandi. Kamar pun belum siap ditempati hingga mereka harus tidur berdesakan dalam satu ruangan. Air adalah barang yang sulit sehingga mandi hanya sehari sekali di kamar mandi Santa Angela.

Selain ketidaksiapan fisik, tenaga pembimbing dan acara-acaranya belum dipersiapkan dengan matang sehingga para seminaris yang baru harus mempersiapkan sendiri segala sesuatunya. Hal itu terjadi karena masih menunggu formator yang dipinjami dari Keuskupan Agung Semarang, sedangkan di Keuskupan Bandung sendiri belum ada formator yang memang khusus dipensiapkan untuk itu. Keberadaan Seminari Tinggi Fermentum di JI. Jawa sempat pula diwarnai dengan dua kali pergantian rektor. Rektor yang pertama kali mendampingi para frater adalah Pst. Siswo Subrata Pr. Beberapa waktu kemudian digantikan oleh Pst. St. Ferry Sutrisna W. Pr. Akhirnya disusul oleh Rm. Ant. Wahadi Martaatmaja Pr., yang berasal dan Keuskupan Agung Semarang. Sejak kehadiran Rm. Wahadi inilah kehidupan dalam arti fisik dan formation mulai tertata. Sejak dan jalan Jawa 22 inilah mulai tradisi ‘meminjam’ formator dan keuskupan lain yang baru berjalan beberapa tahun. Sesudah Rm. Wahadi Pr., sekarang formator yang ‘dipinjam’ dan Keuskupan Agung Semarang untuk mendampingi tahun rohani adalah Pst. Matheus Joko Setyo Setyoprakosa Pr.
Pemisahan yang semula hanya karena faktor jumlah inii tidak lama kemudian dibakukan. TOR dipisahkan dengan skolastik supaya acara-acara lebih tersusun dengan balk untuk mendukung kegiatan rohani yang intensif. Semula TOR digabung dengan skolastik, lalu dipisahkan. Penggabungan maupun pemisahan ini mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing. Pemisahan ini mungkinkan pembinaan hidup formatio yang lebih terarah tanpa adanya gangguan dan skolastik yang mempunyai acara lebih bebas karena kegiatan perkuliahan dan pastoral.

Pada masa bimbingan Psi. St. Ferry SW Pr. tidak banyak yang dilakukan karena kesibukan beliau di Komisi Kepemudaan. Beliau juga hanya menjadi rektor tahun rohani untuk sementara waktu sambil menunggu formator yang tetap.
Di Ji. Jawa dalam masa bimbingan Rm. Ant. Wahadi M. Pr.. kegiatan yang dilakukan lebih pada kesepakatan bersama karena selain untuk belajar bersama, beliau juga memberi kesempatan untuk mandiri. Kegiatan yang diadakan lebih bersifat rohaniah karena memang dalam masa tahun rohani dipcrsiapkan hidup rohani yang mendasar.

Kegiatan para frater juga diarahkan pada kegiatan-kegiatan rohani seperti Taize. Doa Yesus, meditasi, adorasi, bimbingan rohani dan kegiatan rohani lainnya yang menunjang perkembangan hidup rohani. Diharapkan bahwa dengan terlibat dalam gerakan-gerakan doa, para frater mampu menginternalisasikan nilai-nilai rohani tersebut dalam dirinya.
Tidak hanya dalam hidup rohani semata. Kegiatan sosial juga diperhatikan. Secara rutin. para frater aktif terlibat dalam kcgiatan lingkungan. Dalam saat-saat khusus. Rm Wahadi Pr.. bcrsama dcngan frater mcnghadap ketua RT. Aktivitas di Jl. Jawa berakhir pada bulan Juli 1995 dengan berakhirnya sewa rumah. Semua penghuni JI. Jawa hijrah ke Suryalaya Sari.

tentang kegiatan dahulu




“Apakah kegiatan-kegiatan para frater, terutama yang non-Gerejani, tidak membahayakan panggilan mereka?” Pertanyaan ini kerap muncul dari pihak-pihak yang merasa peduli pada “masa depan “para frater. Bapak Uskup sendiri tidak memungkiri kemungkinan ini. Tetapi beliau tetap memberi keleluasaan bagi “karya” para frater dengan sepengetahuan Rektor dan frater-frater lainnya. Bapak Uskup menganggap bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk menempa diri para frater. Dalam suatu kesempatan beliau mengatakan dengan tegas, “Kalau frater yang aktif terlibat dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan akhirnya keluar, tidak perlu dimasalahkan. Justru hal ini membantu sang frater untuk benar-benar menyadari dan memilih jalan hidupnya. Kalau si frater merasa lebih kuat berkarya di jalan awam, kita harus terbuka menerima kenyataan itu”. Dan pernyataan tersebut tersirat bahwa Bapak Uskup menginginkan agar penempaan di seminari membuahkan pribadi-pribadi yang berkualitas, balk bagi yang meneruskan jalan imamatnya maupun bagi yang memilih jalan lain.
Pembinaan calon imam di Seminari Tinggi Fermentum diupayakan digali dari gambaran kenyataan dan kebutuhan Keuskupan Bandung sendiri. “Tidak ada bentuk pembinaan yang ideal,” demikian Bapak Uskup selalu mengingatkan, “karena semuanya mengacu dan yang ideal”. Dengan segala potensi dan kemampuan yang ada, meski terbatas, Bapak Uskup berusaha sekuat tenaga mengembangkan Fermentum. Untuk mewujudkan hal ini, beliau dibantu oleh Pst. Putranto OSC., Pst. Gerard Lala OSC., Pst. Siswa, dan Pst. Ferry yang menjadi pendamping para frater secara berurutan.

Masih dalam rangka pemberian perhatian pada pembinaan calon imam diosesan, Bapak Uskup meluangkan waktu mengunjungi paroki-paroki di Keuskupan Bandung. Dalam setiap kesempatan pertemuan dengan umat, beliau selalu menegaskan bahwa salah satu tugas uskup, dan Ordo, Kongregasi, Tarekat, atau Dioses manapun untuk mengembangkan dan memperkuat barisan Imam Diosesan sebagai tulang punggung keuskupan. Beliau juga selalu menggugah umat untuk berpartisipasi dalam pembinaan calon imam, baik melalui sumbangan doa maupun sumbangan calon”.

Setelah berusia sepuluh tahun empat bulan, Seminari Tinggi Fermentum Buah Batu yang disebut-sebut sebagai rumah masa depan ditinggalkan dengan besar hati. Bapak Uskup dan para pendamping beliau menyediakan tempat yang lebih baik bagi pembinaan calon imam keuskupan ini di Citepus. Kiranya semangat berjuang yang ditumbuhkan di Fermentum Buah Batu tetap menggema dan memberi inspirasi kepada para frater untuk terus melangkah maju.

CN-G84 ke Fermentum


Fermentum di Sekepanjang.. rumah ini pernah menjadi tempat belajar para frater sebagaimana orang biasa

Dalam suatu kesempatan konferensi kornunitas seminari dengan Bapak Uskup, muncul banyak usulan nama untuk seminari yang baru “lahir” ini. Ada yang mengusulkan nama CN-G84. Nama ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan CN-235 atau pesawat sejenisnya. CN-G84 adalah singkatan dari “CaangNa Gusti 1984”. Deretan kata-kata dari bahasa Sunda ini artinya Terang Tuhan 1984. Terang Tuhan diambil dari motto Bapa Uskup “In lumine Tuo” yang artinya “Dalam TerangMu”. Namun nama ini dirasa kurang enak didengar, diucapkan, maupun dicerna. Muncul nama “Fermentum” yang dikutip dari bagian akhir surat pengangkatan Uskup Bandung dari Paus. Akhirnya nama inilah yang disepakati bersama.

Dengan nama ini diharapkan para serminaris dapat menjadi ragi dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat. Bapak Uskup sendiri mengharapkan agar nantinya imarn-imam yang muncul tidak hanya berperan sebagai “modin”, pelayan ibadat dan Sabda; lebih dan itu diharapkan muncul pastor-pastor “pasar” yang benar-benar melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat secara luas. Untuk memperkuat perjalanan mewujudkan harapan ini, para frater memilih St. Yohanes Pembaptis sebagai pelindung seminari. St. Yohanes Pembaptis adalah perintis jalan kehadiran Tuhan di dunia. Dialah yang mempersiapkan kehadiran Keselamatan di dunia. Diharapkan semangatnya menjadi pendorong karya para frater di tengah-tengah Gereja dan masyarakat.

Harapan ini rasanya tidak berlebihan dan cukup realistis. Melihat keberadaan Gereja Keuskupan Bandung di Jawa Barat sepanjang perjalanannya. Kiranya yang selalu menjadi persoalan adalah bagaimana Gereja mau hadir di tengah-tengah masyarakat. Untuk menjawab tantangan ini, para frater berupaya berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Ada yang mengikuti kegiatan-kegiatan Karang Taruna di kampung sebagai wujud dan niat meragi di tengah masyarakat. Beberapa frater membantu anak-anak di kampung dalam belajar bahasa Inggris, matematika, dli. Dalam cakupan yang lebih luas, ada juga frater yang berusaha menjadi teman bagi kaum kecil seperti gelandangan, anak jalanan. pemulung, tukang becak, dan buruh. Tentu kegiatan-kegiatan Gerejani seperti Legio Maria atau Antiokhia atau sejenisnya tidak dilupakan.

di Suryalaya Sari dan Sekepanjang


plang mendirikan bangunan: menandai awal mula berdirinya gedung awal seminari tinggi fermentum di Buah Batu 

Bermula dari pertanyaan seorang seminaris dari Bogor ketika Mgr. Alexander Djajasiswaja berkunjung ke Seminari Tinggi St.Petrus dan Paulus dalam rangka kunjungan pastoralnya sebelum beliau ditahbiskan menjadi uskup. Pada waktu itu seorang seminaris mengajukan pertanyaan, “ Sekarang, karena uskupnya seorang diosesan, apakah lantas akan mempropagandakan imam dioses?” Lalu calon Uskup Bandung ini meminta bantuan kepada Mgr. Geise OFM untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Wadhuh.. bagaimana ini harus dijawab monsinyur?” “Begini, saya ini dulu kan uskup Bogor, tapi saya seorang Fransiskan. Tentu saya sebagai Fransiskan ingin mengembangkan ordo saya, tetapi saya juga ingat bahwa seorang Uskup, entah itu diosesan, entan OSC, OFM, SJ entah apapun, punya tugas mengembangkan diosesnya, keuskupannya, mengembangkan tenaga-tenaga dioses, mengembangkan imam-imam dioses”.

Pertanyaan ini rupanya terus mengiang di hati Bapa Uskup yang waktu itu baru menemukan tiga imam diosesan. Dalam perjalanan beliau menjadi uskup Bandung,akhirnya terpikirkan juga untuk mendirikan sebuah Seminari Tinggi Keuskupan Bandung yang waktu itu seminarisnya dititipkan ke Seminari Tinggi Keuskupan Bogor. St. Petrus-Paulus. Sudah sewajarnya bila sebuah keuskupan memiliki Seminari Tingginya sendiri bagi para calon imam diosesnya. Belum terpikirkan untuk membangun Seminari Tinggi dengan biaya keuskupan. Yang terbersit di benak Bapa Uskup adalah Propaganda Fide. Setelah mempertimbangkannya bersama dewan penasihat, Mgr. Alexander Djajasiswaja bermaksud mendirikan Seminari Tinggi Keuskupan Bandung. Beliau mengirimkan sepucuk surat kepada Propaganda Fide untuk mernbantu pembangunan Seminari Tinggi milik Keuskupan Bandung. “Saya inii engkau tugaskan untuk menjadi uskup di Bandung tetapi saya belum punya rumah untuk imam-imam diosesan!” demikian sepenggal kalimat isi surat tersebut. Pertengahan tahun 1985, surat tersebut dikirim. Lama menanti tidak ada jawaban dari Propaganda Fide. Pada awal tahun 1986 datang sepucuk surat, bukan dari Propaganda Fide, melainkan dari Sekretariat Konferensi Uskup Jerman, yang menyatakan kesediaan membantu pembangunan Seminari Tinggi Keuskupan Bandung. Rancangan gambar bangunan segera dikirim dan dana pun cairlah. Pada pertengahan 1986 pembangunan Seminari dimulai. Tempat yang dipilih adalah tanah yang terletak di Jalan Buah Batu (sekarang Jalan Suryalaya Sari). Tempat tersebut dipilih karena saat iitu hanya itulah tanah milik keuskupan yang tidak “bermasalah”. Tanggung jawab pelaksanaan pembangunan diserahkan kepada Pst. Van Iperen, OSC.

Para frater mulai menempati “Rumah Masa Depan” berlantai dua pada tanggal 1 April 1987 meskipun pembangunan belum rampung seluruhnya. Kala itu ada empat angkatan, yaitu angkatan Fr. Handi, Fr. Ferry, Fr. Didiek, dan Fr. Darman (semuanya sudah menjadi pastor). Dengan kondisi seadanya mereka memulai babak baru dalam perjalanan pendidikan menuju imamat mulia. Keterbatasan sarana tidak menjadi halangan untuk melangkah maju. Tidak adanya penerangan listrik di minggu-minggu awal yang memadai tidak membuat hati dan pikiran mereka ikut suram. Justru dalam terang kebersamaan, para frater dengan semangat yang menggebu-gebu berusaha membuat suasana home-sweet-home. Mereka bersama-sama bekerja rnernpercantik dan memperindah rumah dengan bekerja bersama.

Dalam kebersamaan pulalah mereka mengatur dinamika acara harian seminari sehari-hari. Waktu doa, Studi, opera, “ pastoral” diusahakan sendiri melauio kesepakatan. Rektor pertama yang mendampingi para frater, Pst. Purtranto OSC hadir sebagai peneguh perjalanan panggilan mereka.

August 27, 2008

TERLALU MAHAL MENDIDIK HANYA MENJADI “TUKANG-TUKANG MISA”

Mgr.Alexander Djajasiswaja

Christus Dominus, dekrit Konsili Vatikan II tentang tugas kegembalaan para uskup, Bab III menyebut para pembantu Uskup diosesan dalam tugas pastoral. Para pembantu itu adalah para imam/klerus diosesan. Artikel no 28 dengan jelas merumuskan bahwa para imam diosesan memainkan peranan utama, karena mereka diinkardinasi atau diperuntukkan bagi Gereja Partikular dan harus mengabdikan diri seluruhnya kepada pelayanan Gereja tersebut dalam rangka menggembalakan stu bagian kawanan. Berkaitan dengan usaha tersebut, uskup diosesan selaku pemimpin Gereja particular, berkewajiban untuk membangun dan mempersiapkan para calon imam diosesan.
Untuk Keuskupan Bandung, para calon imam diosesan itu disiapkan di Seminari Tinggi Fermentum. Mgr.Alexander Djajasiswaja (alm), berkenan menyampaikan pandangan sekaligus harapannya dalam Sing Jadi Ragi.
Pada masa beliau (Mgr.Alexander Djajasiswaja) diangkat menjadi Uskup Bandung, situasi imam diosesan sangat memprihatinkan, hanya ada tiga imam diosesan di keuskupan Bandung ini.
Kendati hanya ada tiga imam diosesan, saat itu ada banyak imam dari ordo yang siap membantu. Beliau mengatakan bahwa keuskupan ini juga menjadi berkembang atas karya mereka. Namun apakah keuskupan akan selalu menggantungkan diri pada mereka? Tenaga mereka terbatas. Mereka punya tanggung jawab untuk mengembangkan ordonya. Dan bukan situasi yang baik bila tenaga keuskupan selalu bergantung pada bantuan ordo. Gereja particular atau keuskupan dapat disebut mandiri diantaranya bila sanggup menyediakan tenaga sendiri; yakni para imam yang khusus berkarya dan mengabdikan diri bagi keuskupan. Nah, di sini kita kekurangan tenaga itu, kita perlu menyiapkannya.
Mgr.Alexander Djajasiswaja mengutip perkataan Mgr. Geise, mantan uskup Bogor dalam suatu pertemuan, “Saya memang seorang fransiskan, namun sebagai uskup, saya punya tanggungjawab menyiapkan dan membangun tenaga diosesan, yakni para imam diosoesan”. Mgr.Alexander Djajasiswaja kemudian menambahi pula bahwa bahkan suatu ordo atau tarekat yang berkarya di suatu keuskupan dapat dipandang berhasil dalam tugasnya itu bila bisa mempersiapkan tumbuhnya tenaga imam diosesan secara cukup di keuskupan yang dilayaninya.
Usaha kongkret beliau adalah ketika ada sebidang tanah keuskupan di sekitar Buah Batu. Memang tidak luas, bahkan sangat sempit. Tetapi daripada menunggu tanah yang luas dan tentu lama, maka beliau memberanikan diri untuk memulai membangun sebuah seminari tinggi. Itu dimulai tahun 1986. Dalam hal pendanaan, selain dari lingkup keuskupan Bandung sendiri, juga dibantu oleh pihak konferensi para Uskup Jerman. Permohonan pernah diajukan ke propaganda Fidei di Roma, namun tampaknya permohonan itu diteruskan kepada para uskup Jerman. Atas bantuan itulah, tahun 1987 berdirilah sebuah Seminari Tinggi Keuskupan Bandung yang siap ditempati oleh para calon imam diosesan.
Sebelum seminari ini berdiri pada tahun 1987, selama ini para frater tinggal di diaspora; dulu ada yang dititipkan di Seminari Tinggi St.Paulus Kentungan-Yogyakarta (Pst.Sahid dan Pst.Liem). ada juga yang dititipkan di Biara PAndu (Pst. Sukarna). Kemudian, mulai tahun 80-1n, dititipkan di Seminari Tinggi St.Petrus dan Paulus milik Keuskupan Bogor di Buah Batu seperti angkatan Pst.Handi dan Pst. Ferry sampai tahun 1987.
Dengan pengalaman demikianlah bisa dikatakan bahwa para frater itu menjadi asing di “rumah”nya sendiri. Dan memang ini adalah kenyataannya. Mungkin juga, karena dulu itu calon imam belum banyak sehingga belum perlu membangun sebuah seminari.
Pada akhirnya, nama yang dipakai sebagai nama Seminari Tinggi itu adalah nama “Fermentum”. Nama ini adalah nama hasil usulan para frater sendiri. Fermentum berarti ragi. Istilah tersebut diambil dari kata-kata sri Paus sendiri dalam surat penugasan kepada Mgr.Alexander Djajasiswaja, “ Ut Diocesis Fermentum Sit” (agar keuskupanmu menjadi ragi).
Hal ini juga mau mengatakan harapan Mgr.Alexander Djajasiswaja agar para frater sungguh menjadi “ragi”. Sebuah ragi dimana Seminari Fermentum bukan tempat pembinaan “tukang—tukang” misa; tetapi sebagai pemimpin umat yang sekaligus berwawasan kemasyarakatan. Terlalu mahal, bila seminari itu hanya menghasilkan “tukang-tukang” misa. Di sini, untuk tugas itu sudah cukup iamam. Sudah cukup! Tetapi, imam sebagai pemimpin umat, imam yang dapat membimbing umat, imam yang berwawasan kemasyarakatan, masih sangat kurang. Padahal, Gereja di sini sangat membutuhkan imam-imam seperti itu sehingga Gereja dapat bersambungan dengan masyarakat.
Mgr.Alexander Djajasiswaja mengatakan bahwa tidak cukup untuk menjadi imam saja. Apalagi pada masa depan, dimana perkembangan dan kemajuan sangat cepat terjadi di masyarakat. Umat tentu tidak akan puas, bila imamnya hanya bisa misa saja. Mereke membutuhkan pendampingan khusus, berkaitan dengan hidup dan profesinya. Maka kepada para frater, sejak awal diharapkan untuk menggeluti bidang-bidang tertentu yang memang diminati. Beliau berharap, pada masa depan semakin banyak imam yang ahli atau paling tidak mau mempelajari bidang-bidang khusus. Dengan demikian, ia tidak hanya berguna bagi umat, namun bermanfaat pula bagi masyarakat.
Hal ini juga dimaksudkan bagi mereka semua yang juga berkarya di paroki atau daerah yang kecil. Bahkan, terutama di daerah kota. Untuk hal ini, Rm. Mangun pernah berkomentar, “Sebenarnya, kalian sebagai imam itu di daerah kecil/pelosok kan menjadi orang paling pandai. Seharusnya kalian bisa berbuat sesuatu bagi masyarakat di situ; bila kalian kerjanya hanya week-end saja (Sabtu dan Minggu) untuk misa, ya bisa frustasi, merasa tidak ada pekerjaan. Padahal, kalau mau, ya banyak pekerjaan.” Selama ini terlihat masih banyak imam yang kerjanya hanya week-end saja. Maka, yaw ajar saja bila ada yang frustasi dan akhirnya lari.
Dari itu semua tampak bahwa bekal filsafat-teologi menjadi tidak mencukupi untuk memenuhi tuntutan itu. Idealnya, memang perlu studi tambahan untuk melengkapinya. Perlu kecakapan dan perjuangan. Ini kebutuhan kita. Menjadi imam emmang tidak cukup asal baik saja, namun perlu kemampuan studi tertentu.
Kriteria untuk para calon imam menurut beliau adalah mengikuti perkembangan gereja danmasyarakat, kita membutuhkan imam-imam yang tidak hanya bisa misa saja, harus lebih dari itu. Sebenarnya, umat juga harus dibiasakan bahwa misa itu bukan keharusan bila memang tidakada imam. Ibadat sabda juga bagus. Dan jangan mempersempit tugas imam hanya sebagai pemimpin misa saja.
Untuk kepemimpinan sekarang, rasanya jauh lebih berarti seorang pemimpin itu merupakan rekan seperjalanan, bukan yang menentukan segala-galanya. Mgr.Alexander Djajasiswaja merasa bahwa kondisi itu baik. Jarak memang perlu ada, tetapi jangan terlalu ditekankan. Biarlah para frater berlatih menemukan sendiri jalannya. Kita hanya mengarahkan, member kesempatan dan membantu. Lagi pula, bila relasi dapat terjalin baik, ini dapat menjadi sarana untuk mengupayakan kebersamaan atau kelak dalam presbyterium di antara para imam. Dan ini, yang selama ini saya upayakan, bagaimana tumbuh kebersamaan di anatara para imam. Selain untuk saling mendukung dan menguatkan, kebersamaan dapat sebagai upaya menjalin solidaritas dalam upaya membangun keuskupan. Seorang imam tidak ditahbisakan untuk berkarya sendiri-sendiri. Namun selalu dalam kebersamaan dengan imam lain. Banyak hal bisa kita kerjakan bila bekerjasama dengan orang lain. Umat tentu akan senang bila melihat para imamnya kompak, tidak berjalan sendiri-sendiri. Dan di seminari Fermentum inilah kebersamaan itu mulai dilatih. Bila seseorang tidak sanggup berkerjasama dengan orang lain, Mgr.Alexander Djajasiswaja berkata, “ya.. sebaiknya jangan mejadi imam, nanti malah merepotkan.”.

August 26, 2008

Fermentum Bukan Tangsi

Gagasan Dasar Bangunan Fisik Fermentum

Salah satu hadiah bagi Pst. YB. Mangunwijaya Pr adalah menerima tugas dari Mgr. Alexander Djajasiswaja untuk merancang kompleks Asrama Seminari Tinggi Fermentum untuk room-romo Keuskupan Bandung. Hanya ikut merancang, sebab tentulah segala-gala yang mengenai perancangan serta pemyelenggaraan asrama yang penting itu dating dari pengarahan Bapak Uskup serta staf beliau sendiri, dan tentu saja oleh Pimpinan Seminari Tinggi tersebut.
Bagian yang dikerjakan oleh Pst. YB. Mangunwijaya Pr adalah segi-segi fisik saja, dan ini pun akan dikerjakan sebagian besar oleh sahabat-sahabat insinyur dan pakar dari Keuskupan Bandung sendiri.
Bagi Pst. YB. Mangunwijaya Pr suatu asrama adalah sebentuk keluarga kecil, atau mungkin adalah RT kecil. Hanya dalam asrama seminari unsure kaum ibu, gadis dan anak-anak absen. Ada ruginya, ada untungnya. Namun bagaimanapun perlulah suasana kekeluargaan diciptakan. Bukan suasana tangsi atau hotel ataupun kos-kosan. Oleh karena itu, saran beliau adalah konsep lain dari misalnya asrama Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta yang bergaya asrama tangsi dengan los-los kamar berderet-deret. Untuk keuskupan Bandung, asrama didesentralisasi menjadi unit-unit kecil @ 8 orang, yang merupakan suatu unit keluarga.
Makan bersama ditata sendiri di setiap unit yang harus mengambil makanan dari dapur. Demikian pun tanggungjawab atas segala kebersihan dan keberesan kamar makan sekaligus rekreasi unit dan kamar tamu, KM-WC dan ruang dapur kecil serta tempat jemur, berfungsinya ledeng dan listrik dalam unit serta kebun di sekitar unit ada dalam tangan anggota-anggota unit. Jadi, sosok jongos atau pembantu tidak ada. Seluruh anggota unit bertanggungjawab dan mengerjakan segala hal yang perlu bagi fungsi, kebersihan, kerapihan, keindahan, kenikmatan unit masing-masing. Kalau ada ledeng atau listrik yang rusak, maka tidak ada tukang khusus yang memperbaikinya. Para frater sendirilah yang harus membereskannya. Demikian juga tanaman-tanaman hias maupun makanan penambah gizi, tanaman obat-obatan dan sebagainya di sekitar unit adalah tanggungjawab para frater unit.
Boleh jadi akan tumbuh semacam silent competition unit mana yang paling bagus, bersih dan tertata, kebun mana yang paling mengekspresikan kerajinan para frater, suasana unit mana yang paling akrab. Itu ada positifnya, walaupun lomba kualitas itu harus terjadi secara alami dan tanpa ada semacam demam menang dan sebagimnya. Demikianlah calon pastor praja Bandung tidak hanya belajar filsafat dan teologi dan merasa diri sebagai priyayi yang harus punya pembantu rumah tangga dan tukang kebun, tetapi merasakan sendiri (sedikit) suka-duka para petani, kaum buruh dan pekerja kasar lain dari kalangan bawah. Maka dunia piker dan studi dengan otak dan intelektualitas dapat diimbangi dengan penghayatan praktis kehidupan masyarakat yang tidaklah ringan. Dan semoga dengan demikian para frtare tidak tumbuh menjadi tuan-tuanyang arogan, tetapi menjadi abdi-abdi Gereja dan masyarakat yang penuh teposeliro dan kesetiakawanan dengan kaum dina lemah miskin, tanpa mengabaikan segala hal di kalangan atas yang memegang cambuk pimpinan masyarakat.
Dengan sistem unit-unit yang terdesentralisasi, anggota-anggota unit yang banyak itu dapat saling berkunjung, bersilaturahmi seperti yang terjadi dalam RT biasa. Barangkali hanya pada hari Minggu dan Hari Besar lain, seluruh penghuni asrama bersama rector dan pembimbing makan bersama dalam aula besar; boleh jadi bersama dengan para tamu dari umat Gereja yang sedang berekoleksi atau berseminar, berdiskusi dalam bangunan Aula.
Sebab, aula memang dibuat pertama sebagai ruang-bersama seluruh komunitas Asrama Seminari Tinggi, tetapi juga memeungkinkan akomodasi penginapan untuk kelompok kecil yang ingin rekoleksi, diskusi, seminar umat. Misalnya pada week-end atau hari-hari libur lain. Demikian secara alami komunitas Seminari Tinggi Fermentum selalu berjumpa, saling berdialog dan saling belajar dari umat. Sehingga tidak teramat terisolasi dari umat dan kehidupan real masyarakat seperti dalam system lama nun dulu kala. Tentulah semua itu ada untung ada ruginya. Akan tetapi, Gereja sesudah Konsili Vatikan ke 2 bukan lagi Gereja yang tertutup. Dialog dengan dunia luar, khususnya dengan Umat (yang jelaslah bukan dunia luar bagi calon imam) perlu dipupuk dan dikondisikan oleh susunan bangunan-bangunan fisik.
Khususnya ini penting bagi room praja, yang dari namanya saja (praja=masyarakat, Negara, komunitas public) jelas tidak dididik untuk enjadi biarawan, apalagi eremit yang menjauhkan diri dari dunia. Romo praja, seperti kata Yesus sendiri, teristimewa “di dalam dunia, walaupun tidak ada dari dunia” (Yoh17,10-19). Suatu ungkapan yang memanggil para imam praja untuk bertapa ramai (topo ngramai, bhs.Jawa) yakni tentang intim hening berkontak dengan Tuhan di tengah segala keramaian dan kehirukpikukan apa pun. Oleh karena itu dua unsure; Gereja dan Masyarakat merupakan wilayah dwitunggal medan bakti room-romo praja.
Adalah keliru samasekali, bila romo praja itu dibandingkan dengan misalnya semacam pamong-praja pemerintah atau kaum birokrat-pemerintah, dan seminari tinggi semacam Akademi Pegawai Dalam Negeri Gerejawi atau AKABRI Gerejawi. Memang romo-romo praja adalah pembantu Uskup yang merupakan Gembala Utama setiap keuskupan, dan unsure hirarki, akan tetapi Gereja bukan Negara dan juga bukan perusahaan atau partai. Jadi romo praja bukan juga berhakekat menjadi birokrat, seolah-olah KWI itu pemerintah pusat, lalu uskup itu gubernur dan pastor paroki bupati, sedangkan pastor stasi atau lingkungan itu camat. Atau Uskup adalah direktur utama danmanajer umum, sedangkan pastor paroki itu direktur atau pimpro. Imam, pastor itu bukan birokrat, bukan manajer.
Seorang pastor adalah gembala baik Warta Bahagia, yang meninggalkan 99 dombanya hanya untuk mencari satu domba yang hilang (Luk15:4-6). Seorang manajer yang berbuat seperti itu adalah manajer tolol. Dia harus mengutamakan 99 dombanya yang maju dan baik-baik, sedangkan yang satu domba yang hilang itu ya sudahlah, risiko perusahaan, boleh dilupakan saja karena masih jauh membahayakan efisiensi produki, break-even point keuntungan dan sebaigainya. Bahkan dalam manajemen baik perusahaan, tentara mauapun pemerintahan pun, semua yang dianggap kurang efektif, kurang menguntungkan perlu dirasionalisasi, dipecat atau dipensiun bila perlu.
Seorang pastor tidak pernah memecat warga umatnya, bahkan seperti setiap ibu yang baik, justru lebih menaruhkan perhatian dan kesayangannya kepada anaknya yang paling cacat atau sakit atau tertinggal dibanding dengan kakak-adik lain yang lebih cemerlang. Ya, setiap romo dan imam Gereja adalah ibu. Yang harus pandai mengelola dan mengatur rumah tangga, tetapi terutama mencintai. Bukan manajer atau birokrat. Manajemen paroki, efisiensi organisasi dan sebagainya adalah lain cirri-cirinya maupun definisinya. Cuma susahnya pastor itu harus lelaki. Jadi perlu mendapat “infus” khusus agar sifat keibuan, kelemahlembutan, kecenderungan memihak dan mengutamakan yang cacat, bodoh, miskin dan sebaginya jauh lebih berkembang daripada naluri-naluri lelakinya untuk menjadi manajjer, bos, komandan dan sebagainya.
Demikianlah, semoga sususan fisik Asrama Seminari Tinggi Fermentum Keuskupan Bandung dapat ikut membantu sedkit realisasi pendikan imam-imam praja di Bandung. Dan semoga pembangunan asrama tersebut mencerminkan jiwa dan kearifan Mgr. A. Djajasiswaja yang ketika beliau di Keuskupan Agung Semarang belum menjadi uskup sudah makan garam banyak dalam praksis perpaduan pastoral Gereja dan Negara/Masyarakat, serta semoga merupakan semacam Hadiah Dasawarsa Pentahbisan beliau menjadi Gembala Utama Keuskupan Bandung yang beliau cintai. Yogyakarta, Juli 1994